Pemimpin Bali harus Suci

Kumpulan-kumpulan Dharma Wacana Ida Pedanda Gede Made Gunung dalam bentuk Video / Audio / Foto dan artikel-artikel media tulis tentang Ratu Peranda dari berbagai sumber media.
Post Reply
User avatar
Admin
Admin
Posts: 213
Joined: Mon Jan 07, 2013 4:28 pm
Location: Bali

Pemimpin Bali harus Suci

Post by Admin » Mon Apr 15, 2013 3:19 pm

SIAPA pun yang akan menjadi pemimpin Bali mestinya paham tentang Bali. Bali dibangun dengan konsep kesucian. Bali dibangun dengan konsep bawa maurip, sehingga daerah yang terkenal dengan pulau dewata ini senantiasa hidup. Bali memiliki atma, trikaya dan stula sarira (wilayah).

”Jika ingin tetap hidup dan bersinar, Bali mesti dipelihara, stula sarira atau badannya jangan ‘dicabik-cabik’,” ujar Ida Pedanda Gede Made Gunung saat memberi dharma wacana di hadapan pimpinan parpol, caleg, calon anggota DPD serangkaian upacara penutupan jadwal kampanye dan simakrama Nyepi di Taman Budaya, Kamis (1/4) kemarin. Kalau Bali sudah rusak, budayanya tergerus dan sebagainya, tentu kita akan dituntut oleh generasi mendatang. Generasi mendatang akan mengatakan, ”Mana Baliku?”

Oleh karena itu, jika ingin menjadi pemimpin di Bali, semuanya mesti berangkat dari kesucian. ”Tanyakan pada hati nurani, apakah diri ini suci apa belum,” katanya sembari menegaskan suci itu berbeda dengan bersih.

Di samping itu, seseorang pemimpin mesti mampu mengendalikan pikiran, berkorban secara tulus ikhlas serta mampu menjadi kerthi atau pelayan yang baik. Pada dasarnya menjadi pemimpin itu adalah pelayan masyarakat — melayani kepentingan rakyat.

Bali, kata Ida Pedanda, sudah ditata dengan baik oleh para leluhur dulu. Bali ibarat sebuah lukisan indah dan berkualitas yang dibuat oleh seorang maestro. Lukisan itu hendaknya jangan diisi cat lagi sesuka hati. Keindahan lukisan itu cukup diapresiasi dan difoto. Artinya, jika ingin Bali tetap indah dan bersinar, peliharalah dia dengan baik.

Dikatakannya, dalam sastra agama Hindu disebutkan Vasudeva kotum bakam yang artinya umat manusia penghuni jagat raya ini adalah satu keluarga besar — yang terdiri atas berbagai ras, suku dan agama. Alam atau bumi ini adalah rumah bersama. Sementara hewan dan tumbuh-tumbuhan adalah teman-teman manusia.

Itu berarti, di mana pun seseorang tinggal, itulah rumah yang mesti mereka rawat dengan baik. Sementara umat manusia dari beragam ras, suku dan agama itu tak lain adalah satu keluarga besar. ”Konsep ini mesti ditumbuhkembangkan dalam diri masing-masing, sehingga tidak terjadi konflik antarsesama,” ujar Ida Pedanda. Seseorang juga mesti memiliki hati yang sabar dan pemaaf. Terkait dengan ini, Begawan Wararuci pernah mengatakan bahwa bumi akan damai manakala dihuni oleh manusia yang sabar dan pemaaf.

Kata Ida Pedanda, pemimpin juga mestinya rajin ”mengolahragakan” rohani selain jasmani. Di Bali, berbagai bentuk rerahinan seperti Kajeng Kliwon, Purnama Tilem, hari raya keagamaan merupakan ajang bagi umat Hindu untuk melakukan ”olah raga” rohani. Karena itu, Bali perlu pemimpin yang kuat jasmani dan rohani. Jika rohaninya keropos, Bali akan ikut keropos.

Menjadi pemimpin juga mesti mampu mengimplementasikan filsafat yang terdapat dalam umbul-umbul atau penjor. Ketika sudah berada pada posisi atas (menjadi pemimpin) mereka mesti memperhatikan kepentingan rakyat di bawah. Terkait dengan pemilu, Ida Pedanda mengamati konsep manyama braya tampaknya telah merasuki para peserta kampanye di Bali, sehingga kegiatan itu berjalan aman dan damai. Kondisi ini hendaknya dapat dipertahankan, sehingga hajatan pesta demokrasi berjalan sukses.

(Sumber: Bali Post)

Post Reply

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 1 guest