Bali ibarat Telur

Kumpulan-kumpulan Dharma Wacana Ida Pedanda Gede Made Gunung dalam bentuk Video / Audio / Foto dan artikel-artikel media tulis tentang Ratu Peranda dari berbagai sumber media.
Post Reply
User avatar
Admin
Admin
Posts: 213
Joined: Mon Jan 07, 2013 4:28 pm
Location: Bali

Bali ibarat Telur

Post by Admin » Mon Apr 15, 2013 2:59 pm

IDA Pedanda Gunung mengingatkan bahwa tugas-tugas polisi sangat berat dalam menjaga keamanan Bali. Kapolda dan seluruh prajurit harus bekerja sesuai dharma masing-masing, bahkan dituntut mampu melihat potensi konflik di Bali. ''Kalau polisi dan masyarakat tak mampu menjaga kesucian Bali, hancurlah agama Hindu,'' ucapnya.

Tokoh spiritual karismatik ini menjelaskan, melihat kesucian Bali ibarat membuka telur yang terdiri atas kulit, putih dan bagian kuning. Lapisan kulit telur adalah desa pakraman, subak, banjar, dan adat. Bagian putih dari telur mewakili wangsa-wangsa warga Bali. ''Kuning telur adalah agama, yang menjadi jiwa masyarakat.''

Ida Pedanda menyinggung kondisi keamanan Bali akhir-akhir ini. Ia menyatakan sudah jelas tampak berbagai gangguan telah menggoyahkan desa pakraman dan adat. Gerakan kelompok-kelompok tertentu berusaha membenturkan warga banjar yang satu dengan banjar yang lain. ''Kulkul yang berfungsi memanggil warga untuk ngayah, juga dipakai memanggil massa. Ada masalah antarkelompok, malah disambut kulkul bulus,'' sindirnya.

Kesucian Bali tak hanya mengalami gangguan luar. Selain kulit telur mulai terusik, keributan di masyarakat juga mulai mengarah pada keberadaan wangsa atau golongan. Kesalahan yang terjadi, tegas Ida Pedanda Gunung, banyak yang mengaku paling pintar dan mengklaim wangsa ini paling benar, sementara wangsa lain harus di bawah. ''Karena masing-masing merasa lebih pintar, jadinya ribut terus. Padahal, hanya orang yang suka berbohong menyebut ada wangsa paling pintar,'' katanya.

Suasana dharma wacana makin meriah, manakala Pedanda Gunung mulai menyindir berbagai pelanggaran yang dilakukan oknum polisi. Mengutip ajaran karma phala, ia mengilustrasikan proses hukum yang dijalani roh polisi di alam niskala. Polisi yang bekerja di samsat diadili gara-gara sering menerima amplop, prajurit reserse memeras rakyat, sampai tes masuk Polri harus nombok. ''Anak Pedanda pernah ikut tes polisi tanpa bantuan siapa-siapa. Dia itu termasuk olah ragawan, tetapi tak lulus saat tes kesehatan,'' kritiknya.

Ida Pedanda Gunung menjelaskan bahwa semua umat harus bekerja sesuai dharma masing-masing. Misalnya, polisi di bagian SIM melayani masyarakat yang mencari SIM. Prajurit reserse berkewajiban menindaklanjuti laporan korban. ''Jangan malah mengambil pekerjaan lain, menyuruh orang yang minta bantuan datang ke rumah,'' sindirnya.

(Sumber: Bali Post)

Post Reply

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 1 guest